Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU – Jumat (11/10), Pos Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Atambua bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Belu menggelar Sosialisasi Pengawasan Obat dan Makanan dalam upaya peningkatakan efektivitas pengawasan obat dan makanan penguatan sinergisme kemitraan pengawasan obat dan makanan bagi masyarakat dan stakholder.  Sosialisasi ini di buka secara remi oleh Asisten Administrasi Umum Sekda Belu – Fransiskus X. Asten, S.Sos, berlangsung di Aula Hotel Nusantara II Atambua.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk, tabel dan dalam ruangan

Sosialisasi pengawasan obat dan makanan ini bertujuan untuk meningkatkan sistem pengawasan dan makanan berbasis resiko untuk melindungi masyarakat yang ada di Kabupaten Belu, mendorong kemandirian pelaku usaha dalam memberikan jaminan kemanan obat dan makanan serta terlaksananya pengawasan obat dan makanan secara keseluruhan di Kabupaten Belu. Sosialisasi ini di ikuti oleh peserta sebanyak 20 orang dari masing-masing OPD Lingkup Pemerintah Kabupaten Belu dan Lintas Sektor.

Asisten Administrasi Umum Sekda Belu – Fransiskus X. Asten, S.Sos pada kesempatan ini mengatakan sosialisasi ini sangat penting untuk bisa terkoordinasi pelaksanaan kegiatan terkait dengan pengawasan obat dan makanan. Tim dari Pemerintah Kabupaten telah terbantu yang di ketuai langsung oleh sekda belu namun pro kontra tertentu tersebut yang perlu disinkronisasikan agar supaya kegiatan pelaksanaan kegiatan di lapangan bisa berjalan dengan baik.

‘’ Di era perkembangan sekarang ini banyak sekali makanan-makanan beredar yang bersifat instan itu tidak bebas atau tidak terlepas dari kontaminasi dari bahan-bahan kimia atau residur-residur lainnya karena Kabupaten Belu berbatasan langsung dengan negara Timor Leste yang dimana masuk keluar barang harus secara dini di antisipsi sehingga semuanya bisa terkontrol dan diawasi dengan baik. Karena obat dan makanan ini bersentuhan langsung dengan tubuh manusia,” ucapnya.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, lensa kaca mata

Asisten Administrasi Umum Sekda Belu juga berharap dengan adanya Pos Pom Atambua, Karantina hewan, Karantina ikan, Kesehatan dan lembaga vertikal lainnya yang ada di Kabupaten Belu bersama-sama dengan Pemerintah Belu untuk bersinergi menangani hal-hal yang berkaitan dengan makanan dan obat yang telah beredar di Kabupaten Belu, seperti makanan – makanan instan, kue-kue yang ada di pinggir jalan dan makanan-makanan yang ada di rumah makan sehingga bisa terkontrol dengan baik.

‘’ Dengan adanya isu yang berkembang saat ini yakni virus ASF yang terkena pada babi yang harus sama-sama diantisipasi dan sama-sama kita kendalikan, karena disini ada makanan olahan yakni seperti sosis babi yang di import dari negara Timor Leste bisa dikendalikan sehingga masyarakat di Kabupaten Belu tidak terkena virus ASF tersebut,” tandas Fransiskus X. Asten,S.Sos saat ditemui media kominfo diakhir kegiatan.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk dan dalam ruangan

Sementara itu Koordinator Pos Pom Atambua – Drs. Jafet Rambo, A.pt menggungkapkan dengan adanya sosiasliasi ini semua lintas sektor terkait bisa memahami tugas dan fungsi masing-masing sehingga BPOM tidak bekerja sendiri tetapi sama-sama bekerja supaya masyarakat bisa mengetahui bahwa obat dan makanan yang tidak terdaftar dalam Badan Pom bisa dihindari atau tidak dikonsumsi, terutama obat-obatan yang harus banyak diketahui oleh masyarakat Kabupaten Belu supaya mereka mengkonsumsi obat-obatan yang tepat.

Menurut Jafet, sesusai dengan Peraturan Mendagri nomor 28 tahun 2017 telah mengisyaratkan ada pembagian kewenangan pada masing-masing skpd untuk mengetahui tugas masing-masing, sehingga bisa ada pembagian tugas yang tepat untuk melindungi masyarakat Kabupaten Belu karena ada kewenangan-kewenangan yang tidak boleh dikerjakan oleh Badan Pom tetapi kewenangan dari Pemda contoh indusri rumah tangga pangan.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri, sepatu dan dalam ruangan

‘’ Ada banyak produk-produk yang masuk ke Kabupaten Belu yang sebenarnya secara adminstrasi birokrasi itu di kategorikan sebagai produk ilegal karena produk ilegal itu merupakan salah satu produk yang tidak terdaftar di negara Indonesia, oleh karena itu produk – produk yang masuk ke Indonesi kita bisa saring betul – betul supaya kita jagan membawa hal-hal yang merugikan konsumen, karena sekarang ini yang lagi viral yakni virus ASF yaitu virus pada babi. Pihak BPOM akan bersama-sama dengan Pemda Belu, Karantina Kesehatan Hewan akan bersama-sama menggerakan timnya masing masing untuk secara langsung turun ke lapangan. Pihaknya sedang mencari solusi supaya bagaimana caranya penjualan online ini kita bisa proteksi masyarakat yang mengkonsumsi,” tegas Koordinator Pos Pom Atambua.

Dirinya juga berharap ada sinergi dari lintas sektor untuk melindungi masyarakat baik dari masyarakat Belu, Malaka dan TTU sehingga terhindar dari produk-produk yang tidak aman atau produk ilegal. Selain itu Yafet juga menekankan kepada semua wanita yang ada di Kabupaten Belu untuk memilih bahan kosmetik yang terdaftar dalam BPOM, karena bahan kosmetik sekarang ini banyak memiliki bahan kimia berbahaya sehingga bisa memicu pertumbuhan kanker kulit.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, tersenyum, berdiri dan dalam ruangan

Pemateri dalam sosialisasi pengawasan obat dan makanan ini yakni Koordinator Pos Pom Atambua – Drs. Jafet Rambo, A.pt dengan materi Peran strategis pengawasan obat dan makanan. Pada kegiatan sosialisasi ini juga di lakukan penyerahan cenderamata dari Koordinator Pos Pom kepada Asisten Administrasi Umum Setda Belu.

Berita/Foto: Mercy Aton & Andy Luan

Facebook