REMBUK STUNTING KABUPATEN BELU “GEMA PESTA TAHUN 2019

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU—Selasa (30/07), Bupati Belu – Willybrodus Lay, SH, didampingi Uskup Atambua membuka kegiatan Rembuk Stunting Kabupaten Belu Tahun 2019, yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Uskup Atambua – Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr berlangsung di Aula Gedung Wanita Betelalonok Atambua.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, teks

Kegiatan Rembuk Stunting Kabupaten Belu Tahun 2019 ini mengambil tema “Gerakan Masyarakat Peduli Stunting’’ dilakukan sesuai dengan hasil analisa situasi dan rencana rancangan kerja penurunan stunting di Kabupaten Belu. Sebagai langkah bukti, Pemerintah Kabupaten melaksanakan kegiatan rembuk stunting yang tujuannya untuk menyampaikan hasil analisa situasi dan rencana –rencana kegiatan intervensi penurunan stunting Kabupaten terintegrasi, mendeklarasikan komitmen Pemerintah Daerah dan menyepakati kegiatan intervensi penurunan stunting terintegrasi serta membangun komitmen publik dalam membangun kegiatan penurunan stunting.

Gambar mungkin berisi: 7 orang, orang duduk, tabel, keramaian dan dalam ruangan

Kegiatan ini dihadiri Kepala Kejaksaan Negeri Belu, Pimpinan OPD terkait, Ketua Pokja Stunting NTT, Pimpinan Instansi Vertikal, Pimpinan Bank, Pimpinan Organisasi Wanita, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat.

Bupati Belu – Willybrodus Lay, SH dalam sambutannya mengatakan rembuk bersama membicarakan satu hal yaitu stunting, stunting ini bukan saja masalah di Kabupaten Belu, tetapi prevalensi stunting di Indonesia merupakan masalah secara nasional, sesuai data prevalensi stunting di Indonesia Tahun 2013 yakni 51,07% dan Tahun 2018 menjadi 30,08%, di Provinsi NTT 51,07% sesuai hasil riskerdes turun menjadi 42,06% dan diKabupaten Belu pada Tahun 2013 yakni 46,08% dan sesuai hasil riskerdes menurun menjadi 38,06%.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang berdiri dan teks

Bupati juga menambahkan jarak dari desa menuju kota sangat jauh, sehingga mengakibatkan kebutuhan akan protein sangat sulit untuk di dapat, akses kekota begitu sulit, serta kemiskinan dan asupan gizi yang kurang. Bupati juga mengajak masyarakat untuk bisa keluar dari kemiskinan yakni dengan meningkatkan etos kerja, maka tingkat kemiskinan kita bisa berkurang. Bupati juga berharap kerjasama antara Pemerintah dan Gereja untuk mencari jalan keluar dan membuat kesepakatan bersama melalui Peraturan Bupati sehingga dapat mengatasi masalah stunting di daerah kita.

Gambar mungkin berisi: 11 orang, orang tersenyum, keramaian dan dalam ruangan

Untuk diketahui prevalensi stunting yang tertinggi dari 12 Kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Belu yakni, Kecamatan Nanaet Duabesi 58,22%, Kecamatan Raimanuk 45,04%, Kecamatan Lamaknen 43,83%, Kecamatan Lamaknen 50%, Kecamatan Tasifeto Barat 41,21%, Kecamatan Tasifeto Timur 28,04%, Kecamatan Lasiolat 19,21%, Kecamatan Atambua Barat 16,33%, Kecamatan Atambua selatan 14,11%, Kecamatan Kakuluk Mesak 13,03%, Kecamatan Raihat 12,08% dan Kecamatan Atambua Kota 7,67%.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri

Kegiatan rembuk stunting Kabupaten Belu ini menghadirkan pemateri Uskup Atambua – Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu- Theresia M. B. Saik, SKM, M.Kes, Kepala BP4D Kabupaten Belu – Frans Manafe, Ketua Pokja Stunting Provinsi NTT – Silvia Fangidae dan Perwakilan Unicef –Balandina Rosalina Mbait.

Berita /Foto: Asih Mukti/Bene Luan

Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *