USKUP AGUNG KUPANG MGR. PETRUS TURANG PIMPIN PERAYAAN MISA PENUTUPAN PERPAS REGIO NUSRA

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU – JUMAT (26/07), Bertempat di Lalian Tolu, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu telah dilangsungkan perayaan misa penutupan Pertemuan Pastoral ( Perpas ) ke XI Regio Nusa Tenggara ( Nusra ) dengan tema “Gereja Nusra Peduli Migran Perantau”.

Gambar mungkin berisi: 4 orang, orang tersenyum, orang berdiri dan teks

Perayaan misa dipimpin Uskup Agung Kupang – Mgr. Petrus Turang, di dampingi enam Uskup dari delapan keuskupan se – Regio Nusra. Keenam Uskup tersebut, yakni Mgr. Vincentius Sensi Poto Kota dari Keuskupan Agung Ende, Mgr. Edwaldus M. Sedu dari Keuskupan Maumere, Mgr. Edmund Woga, CSsR dari Keuskupan Weetabula, Vikjen RD. Alfons Segar dari Keuskupan Ruteng, Mgr. Silvester San dari Keuskupan Denpasar, Mgr. Frans Kopong Kung dari Keuskupan Larantuka dan Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr dari Keuskupan Atambua.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri, keramaian, pohon dan luar ruangan Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang berdiri dan keramaian

Acara penutupan Perpas diawali dengan penjemputan para Uskup, serta para peserta Perpas di halaman depan St. Dominikus Emaus. Rombongan disambut dengan tarian – tarian yang dibawakan oleh siswa – siswi dari SMPN Saverius Kefa Menanu.

Hadir pada acara perayaan misa penutupan perpas tersebut, para Imam, Biarawan – biarawati, Bupati Belu – Willybrodus Lay, SH bersama ibu Viviawaty Ng Lay, Sekretaris Daerah Kabupaten Belu – Drs.Petrus Bere bersama ibu, pejabat yang mewakili Bupati TTU dan Malaka, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan serta Tokoh Masyarakat.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, keramaian dan luar ruangan

Uskup Agung Kupang – Mgr. Petrus Turang saat membaca beberapa coretan dari ketujuh Uskup se – Regio Nusra mengungkapkan, sebagai manusia yang dinamis orang bergerak, berpindah dan merantau. Orang pergi meninggalkan rumah dan keluarga untuk mencari hidup. Dalam pertemuan ini, muncul pembahasan tentang persoalan akibat merantau. Keinginan untuk merubah nasib atau mendapatkan pengalaman tidak selamanya berjalan mulus atau sesuai dengan yang dicita – citakan. Sebagian berceritera tentang keberhasilan marantau, sebagian lagi pulang dalam suasana duka cita. Berkaca dari pengalaman ini, Gereja Regio Nusra berusaha untuk memahami persoalan – persoalan utama yang sedang terjadi akibat merantau ke pulau lain bahkan ke negara lain khususnya bagi mereka yang mengalami peristiwa duka cita.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang duduk dan orang berdiri

” Memang manusia lebih tertarik emosi dalam duka cita dari pada dalam suka cita. Kalau dalam duka cita semua pergi berjalan menuju ke pemakaman”, ungkap Uskup.

Lanjut Uskup bahwa, dalam keluarga entah anak, bapa atau mama yang pergi merantau adalah mereka yang ingin merubah nasib, membantu meningkatkan tingkat ekonomi keluarga serta ingin hidup yang lebih baik. Upah yang didapat dipakai untuk kebutuhan keluarga di kampung, membangun rumah dan membiayai pendidikan.

” Bisa dilihat rumah – rumah batu di kampung sebagai hasil dari para perantau itu. Adik – adik yang bersekolah hingga jenjang pendidikan tinggi adalah juga usaha dari kakak, bapa atau mama yang pergi bekerja di perantauan”, ujar Uskup.

Gambar mungkin berisi: 8 orang, orang berdiri dan keramaian

Menurut Uskup, tak jarang ada yang bekerja selama bertahun – tahun pulang dengan tangan kosong (tangannya masih ada, tetapi isinya tidak ada), dalam kondisi sakit dan bahkan ada yang dalam kondisi gila dan hilang ingatan karena ditipu. Karena itu, gereja meminta tegas agar umatnya yang berkarya di manapun sebagai lembaga pemerintahan maupun keagamaan dan peradilan untuk tidak terlibat dalam perdagangan orang dan berjuang sungguh – sungguh mencegah perdagangan orang.

” Orang yang bekerja di Keuskupan Atambua ini pada umumnya orang Katolik. Jadi siapa yang jadi calo jadi dia orang katolik. Kalau sindikat mungkin juga dia orang katolik, apalagi pemerintah, keamanan dan lain semua mereka orang yang menamakan dirinya katolik”, tutur Uskup.

Bupati Belu – Willybrodus Lay, SH dalam sambutanya saat menutup secara resmi perpas XI Regio Nusra mengatakan bahwa pihaknya telah menerima hasil Perpas yang sudah di sampaikan ketujuh Uskup se – Regio Nusra dengan suka cita.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, di panggung dan teks

” Ada beberapa catatan pinggir yang sudah disampaikan Uskup Agung Kupang. Catatan pinggir itu menurut Bupati sudah tidak ada lagi menjadi catatan pinggir, tetapi menjadi catatan tengah yang harus diintruksikan untuk segera dilaksanakan, seperti dokumen kependudukan yang saat ini di Kabupaten Belu kurang lebih sudah mencapai 91 persen, dan sebelum tanggal 31 Desember semua dokumen kependudukan di Kabupaten Belu sudah harus seratus persen”, ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Belu juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada para Uskup Regio Nusra dan para Imam yang sudah berkesempatan hadir di Kota Sahabat untuk menyelenggarakan Perpas selama sepekan.

” Kalau ada jarum yang patah, jangan bawa pulang, kalau ada kata yang salah jangan simpan di hati, tapi simpan disaku karena begitu cuci dia akan bersih bersama baju yang ada. Bawalah kenangan yang indah dari Belu. Datang di tempat ini, mari kita menjadi sahabat – sahabat kristus”, ucapnya.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang berdiri

Usai perayaan misa, dibacakan juga hasil kesepakatan perpas yang ditandatangani oleh kelima uskup se – Regio Nusra.

Acara penutupan diakhiri dengan pemberian kenang – kenangan dari panitia perpas ke XI Nusra kepada para Uskup, Direktur Puspas da Direktur Perpas Nusra yang diserahkan oleh Ketua seksi usaha dana, dalam hal ini oleh Ekonom Keuskupan Atambua.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang di panggung dan luar ruangan

Untuk diketahui, Perpas ke XII Regio Nusra akan diselenggarakan di Keuskupan Larantuka. Hal itu ditandai dengan penyerahan bendera oleh Vikjen Keuskupan Atambua – Pater Vinsensius Wun kepada Uskup Larantuka – Mgr. Frans Kopong Kung didampingi Uskup Aambua – Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr
BERITA/FOTO: Frans Leki / Sipri Luma

Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *