KAJIAN TENTANG SITUASI MIGRAN PERANTAU DI NUSRA

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU–Rabu (24/07), Memasuki hari kedua Pertemuan Pastoral (PERPAS) Regio Nusa Tenggara (NUSRA) ke Xl di awali dengan Perayaan Ekaristi, yang di pimpin oleh Mgr. Frans Kopong Kung, bertempat di Hotel Matahari Atambua, Kabupaten Belu.

Gambar mungkin berisi: 5 orang, orang berdiri, anak dan teks

Setelah Perayaan Ekaristi, dilanjutkan dengan presentasi kajian tentang situasi Migran dan Perantau di Regio Nusa Tenggara (NUSRA) oleh Puslit Candraditya Maumere yang dibawakan oleh Pater Huber Thomas Hasuli, SVD beserta tim, dengan topik pembicaraan tentang, pertama, Sepotong kisah dari makasar, kedua, Pada mulanya ada migran, ketiga Studi perantau dan yang ke 4 adalah Tentang Pastoral Nusra.

Di sesi kedua kegiatan Perpas ini Gubernur – Viktor Bungtilu Laikodat hadir sebagai narasumber dan mengajak Gereja Katolik yang ada di wilayah Nusa Tenggara Timur untuk ikut serta dalam pembangunan masyarakat dengan menempatkan para kader pada tim percepatan yang ia bentuk.

Gambar mungkin berisi: 6 orang

Kehadiran dibarisan kerja Gubernur merupakan bentuk sinergi Pemerintah dengan gereja dalam mengatasi persoalan-persoalan kemasyarakatan yang juga menjadi bidang pelayanan pastoral. Dengan itu apa yang dibicarakan dalam berbagai forum diskusi gereja dengan pemerintah dapat terwujud dalam aksi nyatanya.
Selanjutnya Berbicara tentang Migran dan Perantau, Gubernur juga menyebutkan aneka persoalan yang harus diatasi mulai dari akarnya yaitu perekonomian dan pendidikan. Migrasi menurutnya terjadi karena faktor pendorong yaitu mencari kehidupan ekonomi yang lebih baik dan faktor daya tarik berupa upah yang tinggi di daerah atau negara lain. Pemerintah sedang memaksimalkan berbagai potensi yang ada dan membuka lapangan kerja untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Gambar mungkin berisi: 6 orang, orang duduk, tabel dan dalam ruangan

‘’Ada banyak potensi alam berkualitas yang ada di wilayah ini, namun Belu belum memaksimalkan dengan baik,’’ ungkapnya.
Sementara itu keterampilan masyarakat dalam mengelolah usaha juga digenjot. Selain meningkatkan kualitas hasil pendidikan formal, Pemerintah Provinsi NTT juga membuka balai pelatihan bagi masyarakat.

‘’Kita tidak melatih orang untuk pergi keluar, tetap bekerja mengembangkan usaha di wilayah NTT,’’ tegas viktor.

Sebagai narasumber terakhir yang membawakan materi tentang refleksi teologis Biblis, Romo Dr. Martin Chen mengatakan fenomena migran hendaknya tidak pertama-tama dilihat secara negatif sebagai problem, tetapi sebagai kesempatan dan anugerah untuk menemukan wajah kristus yang terpantul dalam diri perantau dan pengembara.

Lebih dari itu melalui arus deras migrasi dalam dunia global dan media dewasa ini, gereja dapat menemukan jati diri sebagai persekutuan umaat Allah yang sedang berziarah di muka bumi.

Foto/Berita: Ichy Klau, Cransen Fontez, Devi Yunita & Okto Mali

Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *