MIGRASI DAN PERANTAUAN MENJADI FOKUS UTAMA DALAM PERPAS REGIO NUSRA KE XI

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU—Selasa (23/07), Pertemuan Pastoral (Perpas) Regio Nusa Tenggara (Nusra) ke XI, yang berlangsung dari tanggal 22 juli sampai 27 juli 2019 dengan Tema “Gereja Nusra Peduli Migran Perantau” ini dihadiri oleh 7 Uskup dan 1 Vikjen dari 8 Keuskupan Regio Nusra diantaranya adalah Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Weetabula, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Maumere, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Denpasar dan Keuskupan Atambua. Pertemuan Pastoral ini bertempat di Hotel Matahari Atambua, tepatnya di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan dalam ruangan

Salah satu agenda pertama dari Pertemuan pastoral (PERPAS) Regio Nusra ke XI ini yakni penyampaian testimoni dari masing-masing Keuskupan, salah satunya adalah Testimoni dari Keuskupan Weetabula, yang di sampaikan oleh Maria Mura Ngguna, dirinya mengatakan bahwa memilih keputusan untuk menjadi TKW bukanlah pilihan yang tepat, karena menjadi TKW tidak membuat kehidupan kita menjadi lebih baik, namun sebaliknya akan mempersulit keadaan. Menanggapi testimoni dari Keuskupan Weetebula tersebut, KeuskupanAgung Ende menyikapi situasi Migrasi dan Perantauan ini menjadi hal yang penting,Gereja Keuskupan Agung Ende merasa terpanggil dan peduli untuk turut terlibat dalam menangani persoalan Migrasi dan Perantauan. Tanggapan atas testimoni tersebut juga di sepakati oleh para Keuskupan lainnya.

Gambar mungkin berisi: 2 orang

Usai penyampaian testimoni dari Keuskupan Weetabula, agenda selanjutnya dilanjutkan dengan penyampaian catatan dari pengamat terkait dampak dari masalah TKI/TKW. Ada 5 dampak yang menjadi catatan penting dalam Perpas ini yaitu yang Pertama, masalah pastoral gereja terkait tripartite pelayanan gereja, Kedua, semakin kehilangan tenaga kerja produktif karena migrasi besar-besaran, Ketiga, masalah keretakan keluarga kristiani dan potensi perceraian, Keempat, kemerosotan moral dan semangat pelayanan karena sistem kerja mafia / human trafficking dan Kelima, masalah status hukum.

Agenda pertemuan hari pertama ini di lanjutkan dengan kunjungan ke stand pameran di lapangan toor lo’o damian lalian tolu.

Berita/Foto: Devi Yunita, Ichy Klau Okto Mali & Cransen Fontez

Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *