7 USKUP REGIO NUSRA IKUTI PERAYAAN AKBAR PERPAS

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU–Senin (22/07), Uskup Atambua – Mgr. Dominikus Saku, Pr didampingi Uskup Konselebrans memimpin perayaan misa Pertemuan Pastoral (Perpas) Regio Nusa Tenggara (Nusra) ke XI, bertempat di Gereja Katedral Sta.Maria Immaculata Atambua.

Gambar mungkin berisi: 4 orang, orang duduk

Perayaan akbar Perpas dengan tema “Gereja Nusra Peduli Migran Perantau”, dihadiri 7 Uskup dari 8 Keuskupan Regio Nusra, yakni Mgr. Petrus Turang, Pr dari Keuskupan Agung Kupang, Mgr.Vincentius Sensi Poto Kota dari Keuskupan Agung Ende, Mgr. Edwaldus M. Sedu dari Keuskupan Maumere, Mgr. Edmund Woga, CSsR dari Keuskupan Weetabula, RD. Alfons Segar (Vikjen) dari Keuskupan Ruteng, Mgr. Silvester San dari Keuskupan Denpasar, Mgr. Frans Kopong Kung dari Keuskupan Larantuka dan Mgr. Dominikus Saku, Pr dari Keuskupan Atambua. Turut hadir juga dalam perayaan misa Perpas tersebut, para Imam, Biarawan – biarawati, Bupati Belu – Willybrodus Lay, SH bersama ibu Viviawaty Ng Lay, Wakil Bupati Belu – Drs. J. T. Ose Luan, Sekretaris Daerah Kabupaten Belu – Drs. Petrus Bere, Pejabat yang mewakili Bupati TTU dan Malaka serta Tokoh Masyarakat.

Gambar mungkin berisi: 6 orang, orang duduk

Pertemuan persaudaraan yang dilaksanakan tig tahun sekali ini merupakan agenda tetap sebagai wahana untuk share bersama dan menjalin kerukunan dan persaudaraan di antara para pekerja di ladang Tuhan. Serta membahas masalah – masalah pastoral yang ditemukan dan dialami di keuskupan dan rencana – rencana yang akan dilaksanakan.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk

Uskup Atambua – Mgr. Dominikus Saku, Pr dalam homilinya mengatakan, melalui Perpas ini Gereja Nusra semakin peduli migran perang dan menjadikan momentum perjumpaan, yang memungkinkan kita berjumpa dengan Tuhan di dalam persekutuan gereja. Kita juga berharap, semoga dibalik semua pengalaman, isu, berita dan keprihatinan tentang masalah migran, perang berilegal, di dalamnya kita menjumpai kisah–kisah tragis, Human Trafficking dan isu perang, perdagangan organ tubuh manusia. Dengan adanya Perpas Regio Nusra kiranya bisa membantu kita mengembangkan upaya pastoral di mana para migran perantau dari Region Nusra ditangani lebih baik, dibekali dengan Idealisme dan Realisme untuk hidup yang lebih bermanfaat, teratur menurut kehendak Tuhan dengan berbekal keterampilan yang memadai dengan data, dokumentasi dan informasi yang lebih lengkap dan akurat dengan kemampuan iman yang lebih teguh akan Yesus Kristus sehingga bisa menghidupi dan belajar dari situasi hidup yang paling suram sekalipun untuk bangkit dari segala keterpurukan.

Gambar mungkin berisi: 6 orang

“ Semoga dari kampung–kampung, desa–desa, lingkungan–lingkungan, paroki – paroki, keuskupan–keuskupan di Provinsi Nusra ini kita bisa berangkatkan rombongan Maria– maria jaman now yang lebih beradap dan bermartabat di tengah–tengah perjuangan dunia,” ungkap Uskup.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih

Di akhir khotbahnya, Uskup mengajak umat untuk berdoa semoga Roh Kudus Allah membantu kita mengalami Perpas Regio Nusra ini dengan hasil–hasil yang lebih baik, agar kita makin bertumbuh dan berkembang menjadi gereja Nusra yang lebih peduli migran perang.

Usai misa, acara dilanjutkan dengan ramah tamah bersama para Uskup, Pastor Paroki dan Romo Vikjen di Aula Balai Nazaret.

Berita/Foto: Frans Leki / Hengki Mao

Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *