SOSIALISASI DAN ADVOKASI PENGENDALIAN BETINA PRODUKTIF

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU – KAMIS (11 / 07), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia bekerja sama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia menggelar Sosialisasi dan Advokasi Pengendalian Betina Produktif di Kabupaten Belu Tahun 2019 di Ballroom Hotel King Star Atambua.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang duduk

Kegiatan pengendalian betina produktif merupakan salah satu kegiatan dari program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting ( UPSUS SIWAB ) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48 Tahun 2016. Program ini menjadi penting dari upaya pemerintah melakukan percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau. Kegiatan sosialisasi yang diikuti peserta dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu, Tim Pengendalian dan Pengawasan Pemotongan Ternak Ruminansia Besar Betina Produktif Kabupaten Belu, Staf dari Dinas Peternakan Kabupaten TTU, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Malaka, Aparat Polres Belu, Staf Bea dan Cukai Kabupaten Belu, Staf Imigrasi Kabupaten Belu, dan Lembaga Perbankan se – Kota Atambua ini di buka secara resmi oleh Wakil Bupati Belu – Drs. J. T. Ose Luan.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang duduk dan dalam ruangan

Kasubdit Kesejahteraan Hewan pada Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia – Drh. Hasti Yulianto, MM usai kegiatan sosialisasi dan advokasi menyebut, pelaksanaan pengendalian pemotongan betina produktif dilakukan dalam upaya mendukung peningkatan populasi sapi dan kerbau dan dalam rangka mendukung pelaksanaan pengawasan pengendalian pemotongan betina produktif.

” Kegiatan pengendalian pemotongan betina produktif sudah kita lakukan sejak Tahun 2017 dan hingga saat ini sudah memasuki tahun yang ke 3 bekerja sama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Awalnya target kita ada di 17 Provinsi, namun hingga tahun 2019, kita tingkatkan lagi di 32 Provinsi sehingga ada penambahan target. Untuk Provinsi NTT, kita targetkan sejak program ini dilakukan dengan fokus pada rumah pemotongan hewan yang ada di Kupang,” ungkapnya.

Gambar mungkin berisi: 5 orang, orang duduk, tabel dan dalam ruangan

Kasubdit menambahkan, sesuai data yang masuk secara rutin melalui sistem pelaporan secara online, ada kecenderungan pemotongan sapi betina produktif di NTT dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang signifikan.

” Kita selalu melakukan advokasi dan sosialisasi dengan teman – teman dari dinas, polri dan pelaku pemotongan betina produktif sehingga pengendalian pemotongan sapi betina di Provinsi NTT menurun,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Belu – Drs. J. T. Ose Luan mengatakan, untuk mewujudkan tercapainya program pengendalian pemotongan betina produktif dibutuhkan kerja sama yang baik dan partisipasi semua pihak terkait. Semua ini dapat terwujud apabila semua pihak memiliki pemahaman yang sama. Oleh karena itu pertemuan ini dipandang sangat penting sebagai forum untuk menyatuhkan pemahaman dan persepsi dalam upaya menjalin koordinasi dan kerja sama yang baik.

Gambar mungkin berisi: 6 orang, orang berdiri dan dalam ruangan

” Dulu NTT di kenal sebagai gudang ternak, tapi akhir – akhir ini ternak – ternak yang di antar pulaukan tidak produktif. Hal ini disebabkan karena kita kurang waspada bagaimana mengantar pulaukan sapi – sapi keluar, malah yang ditinggal adalah sapi – sapi yang kurang produktif, karena bagaimanapun juga bagi kita orang Timor, sapi merupakan sesuatu yang sangat luar biasa dalam keluarga,” ujar mantan Sekda Belu ini.

Materi – materi yang disampaikan dalam kegiatan sosialisasi dan advokasi tersebut menyangkut kebijakan pemerintah dalam pengendalian pemotongan sapi/kerbau betina produktif yang di bawakan oleh Kasubdit Kesejahteraan pada Kementerian Pertanian RI – Drh. Hasti Julianto, MM, Kebijakan dan Strategi Dinas Peternakan Provinsi NTT Dalam Pengendalian Pemotongan Betina Produktif yang dibawakan oleh Kepala Dinas Provinsi NTT – Ir. Danny Suhadi, Peranan Tim Pengendali dan Pengawasan Pemotongan Ternak Ruminansia Besar Betina Produktif di Kabupaten Belu yang di bawakan oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu – Drs. Nikalous Umbu K. Birri, MM dan Peranan Polri Dalam Pengendalian Pemotongan Betina Produktif yang dibawakan oleh Dir. Binmas Polda NTT – AKBP Josep Mandagi, S.I.K
Foto/Berita: Frans Leki & John Dasilva

Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *