PERAN STRATEGIS IMIGRASI ATAMBUA DALAM PEMBUATAN PASSPORT

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU – Kamis (13/06), Kantor Imigrasi Kelas II Atambua adalah salah satu Instansi yang bergerak di bidang Keimigrasian, bernaung dibawah Kantor Wilayah Nusa Tenggara Timur, Direktorat Jenderal Imigrasi, Kemeterian Hukum dan HAM RI yang bertanggungjawab untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi, diantaranya melaksanakan Tugas Tata Usaha dan Rumah Tangga Keimigrasian, melaksanakan tugas di bidang Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Lalu Lintas Keimigrasian, dan Tugas Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang duduk

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Atambua, Azwar Anas, SH, MM, ketika ditemui diruang kerja pada Kamis (13/06) mengatakan bahwa Kantor Imigrasi Atambua sudah berdiri di Atambua sejak Tahun 1973, dengan alasan mendasarnya adalah untuk memudahkan pelayanan lalulintas orang dari dan ke wilayah Timor Leste.

Dijelaskannya Kantor Imigrasi Kelas II TPI Atambua membawahi tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka dan Kabupaten TTU. kabupaten – kabupaten ini berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste. Disamping itu juga membawahi 8 Pos Pelintasan antara lain, PLBN Mota’ain, Wini, dan PLBN Motamasin, kemudian Pos Tradisional di Napan dan PLB Turiskain, Haumeniana, Laktutus dan Builalu.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, lensa kaca mata dan dekat

“Tugas dan fungsi Kantor ini melayani pembuatan passport, ijin tinggal keimigrasian bagi Negara asing yang berdiam di Kabupaten TTU, Belu dan Malaka. Sampai dengan saat ini kebanyakan orang asing yang tinggal di wilayah kerja Imigrasi ini didominasi oleh Mahasiswa Timor Leste dan para Rohaniawan yang berasal dari Filipina, Jerman dan negara tertangga Timor Leste,” kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Atambua, ketika ditemui diruang kerjanya.

Kaitannya dengan pengurusan Passport, menurutnya persyaratan yang hendak dipenuhi adalah KTP, Kartu Keluarga, ijasah, akta lahir dan surat Nikah. Sementara bagi anak yang belum memiliki KTP atau dibawah umur, wajib melampirkan KTP kedua orang tua dan surat nikah orang tua. Hal ini dilakukan untuk memastikan kebenaran dari anak tersebut. Sedangkan untuk persoalan Ijin Tinggal bagi Negara asing, para pemohon harus memiliki Ijin tinggal kunjungan, ijin tinggal tetap dan ijin tinggal terbatas dengan batas waktu sesuai dengan ketentuan Kantor Imigrasi Kelas II TPI Atambua.

“Ijin tinggal tetap, berlaku selama 5 tahun dan ijin tinggal terbatas 1 tahun, sementara untuk ijin tinggal kunjungan berlaku selama 30 hari dan bisa diperpanjang, untuk pemanfaatan passpor berlaku selama 5 tahun dengan biaya Rp. 350.000,- dan untuk pembuatan passport bisa diselesaikan selama tiga hari setelah foto dan wawancara,” tuturnya.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, dalam ruangan

Sebagai salah satu upaya, mempermudah pembuatan passport secara online Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI telah melauching suatu Aplikasi, yang diberi nama Aplikasi APAPO (Aplikasi Pendaftaran Antrean Paspor Online). Aplikasi ini memberikan kemudahan bagi pemohon sehingga bisa mengajukan permohonan dimana saja dan kapan saja.

“APAPO ini sangat membantu para pemohon karena dengan aplikasi tersebut bisa mempermudah pemohon untuk mengajukan permohonan dan setelah urusannya selesai, untuk membayar biaya pembuatan Passport, Para Pemohon bisa langsung membayar di loket Kantor Pos Indonesia yang sudah disiapkan di belakang Kantor Imigrasi Atambua,” tegasnya.

Disamping itu juga, Kantor Imigrasi Atambua juga meluncurkan Aplikasi Pelaporan Orang Asing atau disingkat dengan nama APOA. APOA ini bisa diakses dengan mudah oleh setiap orang untuk melaporkan Warga Negara Asing (WNA) yang sementara berdiam di wilayah kerja Kantor Imigrasi Atambua.

Diakhir wawancaranya, Ia juga menghimbau kepada para pengelola Hotel dan tempat penginap lainnya, bahwa Imigrasi juga telah meluncurkan Aplikasi Pelaporan Orang Asing (APOA), jadi bagi Para pengelola hotel wajib melaporkan warga negara asing yang saat itu tinggal di hotel tersebut melalui Aplikasi APOA.

“Dengan sistem ini kami dari pihak Imigrasi bisa langsung mengetahui dan melakukan pengawasan terhadap orang asing yang berdiam di Kabupaten Belu, Malaka dan TTU,”katanya.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri

Salah satu Warga Negara Asing asal Negara Polandia yang saat itu dikonfirmasi soal pelayanan Kantor Imigrasi Atambua, Suster Joanna Dresler, MC mengatakan dirinya sudah berdiam di Kabupaten Belu selama kurang lebih 4 Tahun dan menurutnya sangat terbantu dengan pelayanan Imigrasi karena semua informasi yang berhubungan dengan pembuatan administrasi berupa passpor, visa dan administrasi lainnya tidak menghabiskan waktu yang begitu lama dan berjalan baik tanpa adanya kendala – kendala yang ditemui.
Ia berharap, agar tetap terus mempertahankan sistim kerja seperti sekarang dan melanjutkan program kerja mereka demi masa depan yang lebih baik.

Berita /Foto : Norci Man & Sipri Luma

Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *