BPBD KABUPATEN BELU, FOKUS PADA MENGURANGI RESIKO BENCANA

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU—Kamis (14/05), Pemerintah Kabupaten Belu melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah terus berupaya memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat Kabupaten Belu yakni dengan berfokus pada mengurangi resiko bencana alam salah satunya adalah dengan membuat rabat jalan pada daerah/desa yang berdampak bencana, seperti banjir dan longsor serta memberikan simulasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang apa saja yang merupakan ancaman bencana yang akan terjadi di Kabupaten Belu dan bagaimana menyiapkan masyarakat secara dini ketika menghadapi bencana itu sendiri.

Sebagai salah satu instansi di Kabupaten Belu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah juga bekerjasama dengan tiap-tiap OPD, sekolah serta Lembaga Sosial Kemasyarakatan yakni PMI, CRS dalam kapasitasnya melatih relawan dalam menghadapi bencana yang ada yang ada di Kabupaten Belu.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk

“Kerjasama kami ini yakni dengan dibentuknya satu kelompok yang telah kami siapkan, yakni masyarakat diperkenalkan dengan suatu teknologi baru yang sederhana untuk menghadapi perubahan iklim, yaitu teknologi “irigasi tetes” yakni dengan cara menanam cabe, tomat dan jenis tanaman lainnya. Disamping mengalami perubahan iklim tersebut, adapun dampaknya pada perubahan ekonomi keluarga, yang mana masyarakat dapat memperoleh pendapatan serta keuntungannya dengan menjalankan teknologi irigasi tetes tersebut sekitar belasan juta rupiah pertiga bulannya, adapun sosialisasi di sekolah-sekolah yang ada di wilayah pesisir yang mana sosialiasi ini dibuat agar para siswa-siswi sudah lebih tanggap dalam menghadapi situasi bencana ataupun sebelum bencana itu terjadi di wilayah pesisir pantai,” ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah – Alfons Kehi saat ditemui diruang kerjanya Selasa (14/05).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah juga telah melakukan pemasangan rambu tsunami evakuasi mulai dari Silawan, Kenebibi, Jenelu, dan Fatuketi, serta rambu rawan longsor untuk mengingatkan kepada para pengendara agar berhati-hati karena berada pada kawasan rawan bencana seperti longsor.
Selain itu menurut Pakar Bencana, seperti yang disampaikan oleh Kaban Penanggulangan Bencana Daerah bahwa ditahun 2019 ini merupakan tahun terpanas dan siklus ini sering terjadi pada 5 tahun sekali. Untuk tahun ini di Nusa Tenggara Timur hampir seluruh Kabupatennya rawan terhadap ancaman kekeringan.

“Saya berharap masyarakat menyadari bahwa penanganan penanggulangan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab salah satu OPD namun harus menjadi tanggung jawab kita bersama,” tambah Kaban Penanggulangan Bencana Daerah.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk

Selain Kaban, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik – Yosef B. Asa, S.Sos juga mengatakan bahwa salah satu upaya yang dilakukan oleh Badan Penanggulanagn Daerah dalam penanganan bencana, yakni dengan memberikan bantuan kepada masyarakat korban bencana dengan cara menyalurkan logistik sesuai dengan data yang telah dihimpun oleh petugas saat mendata di lapangan. Sehingga logistik dapat tersalurkan tepat pada yang bersangkutan sesuai dengan jumlah kebutuhan.

“Adapun jenis – jenis bantuan emergency logistik terhadap penanganan penanggulangan bencana saat bencana itu terjadi seperti beras, tikar, terpal, perabot dapur seperti panci, kompor, wajan, ikan kaleng, serta air bersih, semuanya akan disalurkan kepada korban bencana sesuai dengan data yang telah dihimpun oleh petugas kami,” kata Yosef.

Foto/Berita: Novita Bogar & Andi Luan

Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *