KEMENPAR SEMAKIN AGRESIF DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA

Facebookyoutubeinstagram

DINAS KOMINFO KAB. BELU – Selasa (26/03), Menindaklanjuti hasil pelaksanaan Bimtek Pengemasan Produk Wisata yang sudah dilaksanakan pada Bulan Januari lalu, Kementerian Pariwisata melalui Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan kembali hadir di Kabupaten Belu dalam rangka menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) dalam sebuah kegiatan Pengemasan Produk Wisata Sejarah dan Warisan Budaya II. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 26 – 27 Maret 2019 di ballroom Hotel Matahari Atambua.

Hal ini dilakukan karena Kabupaten Belu merupakan salah satu pintu keluar masuknya Wisatawan ke Indonesia, sehingga perlu adanya peningkatan kapasitas dalam mengelola Pariwisata. Kegiatan ini ditujukan bagi para pelaku Pariwisata yang ada di Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, Kabupaten TTU dan TTS.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri dan dalam ruangan

Kepala Bidang Wisata Sejarah dan Warisan Budaya Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata RI, Dra. Anna Sunarti, MM mengatakan bahwa Kabupaten Belu dan Kabupaten sekitarnya begitu terkenal dengan potensi wisata, terutama wisata alam. Menyikapi hal ini Tim Percepatan, Pengembangan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Seni Budaya hadir kedua kalinya di Kabupaten Belu yang berbatasan darat dengan Negara Timor Leste , dengan tujuan memberikan pemahaman akan pentingnya pengemasan Produk Wisata Sejarah dan Warisan Budaya.

“Pengembangan wisata yang dikemas dalam kegiatan Crossborder ini dilaksanakan atas arahan Menteri Pariwisata. Bukan hanya dengan pelaksanaan festival dan kegiatan lainnya, tetapi salah satu upaya yang akan terus dilakukan adalah dengan melaksanakan Bimbingan Teknis untuk meningkatkan kunjungan wisatawan datang bukan sekedar beristrahat namun menghabiskan waktu lebih lama ke Kabupaten Belu dan Kabupaten sekitarnya,” ujar Kabid Wisata Sejarah dan Warisan Budaya, disela–sela kegiatan Bimtek, pada Selasa (26/03).

Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang duduk, tabel dan dalam ruangan

“Salah satu produk Wisata bersejarah dan memilki warisan budaya yang sudah kami kunjungi adalah Kampung Adat Matabesi. Pengembangan wisata Kampung Adat Matabesi memiliki potensinya sangat luar biasa, masih sangat kental wisata sejarah dan warisan budaya ditempat tersebut,” tutur Kabid.

Menindaklanjuti potensi yang ada di Kampung Adat Matabesi tersebut, bukan hanya pemerintah pariwisata, namun harus ada dukungan kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk bagaimana memanfaatkan tempat itu sebagai salah satu obyek wisata yang dikemas menjadi sebuah paket yang menarik wisatawan berkunjung ke Kabupaten Belu.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang duduk, orang berdiri, tabel dan dalam ruangan

Sementara itu, ditempat terpisah Kepala Pariwisata Kabupaten Belu, Remigius Asa, SH menyampaikan kegiatan ini dilakukan menindak lanjuti hasil pelaksanaan Bimtek yang pertama kali diselenggarakan pada Bulan Januari lalu, diharapkan kegiatan ini menghasilkan sebuah rekomendasi kepada stakeholder pariwisata terkait pengemasan produk wisata di Kabupaten Belu dan Kabupaten sekitarnya.

“Saya berharap, kegiatan ini tidak dianggap sebagai kegiatan yang tidak bermanfaat dan berakhir di tempat ini, tetapi harus adanya pendampingan secara berkala untuk mendongkrak potensi sejarah dan budaya yang ada,” pungkas Kadis Pariwisata Kabupaten Belu, usai acara pembukaan Bimtek pengemasan Produk Wisata Sejarah dan Warisan Budaya.

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri

Khusus pengembangan sektor pariwisata budaya, tidak saja di Kampung Adat Matabesi, namun di berbagai kampung adat yang lainnya juga perlu dikemas produk wisata sejarah dan budayanya, sehingga menjadi menarik untuk dikunjungi oleh para wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara.

Hadir sebagai narasumber dalam Bimtek tersebut, Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Seni Budaya, Ary Hartanto dengan materi yang disampaikan yakni Pola Perjalanan Berbasis Budaya, Rode Ayu dengan materi Mempersiapkan, Mengemas Produk Dan Layanan Wisata Berbasis Budaya.

Foto/Berita: Norci Man & Bene Luan

Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *