Peringati HPN, Dewan Pers Selenggarakan Konvensi Nasional Media Massa

Ambon, Kominfo — Dewan Pers menyelenggarakan Konvensi Nasional Media Massa dengan tema “Integritas Media Nasional dalam Lanskap Komunikasi Global: Peluang dan Tantangan” di Ambon, Provinsi Maluku, Rabu (08/02/2017). Penyelenggaraan konvensi yang bertempat di Lapangan Kantor Gubernur Maluku Utara ini merupakan bagian dari Peringatan Hari Pers Nasional yang dipusatkan di Provinsi Maluku.

Tema Konvensi kali ini diambil dengan maksud menghadapi tantangan media nasional yang siap terhadap perubahan, baik teknologi maupun konten yang semua sudah berbasis TIK, siber, serta aplikasi.

Konvensi dibuka oleh Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua, diikuti oleh 1000 peserta yang berasal dari berbagai media, pimpinan Persatuan Wartawan Indonesia seluruh provinsi, Duta Besar dari 18 negara, serta beberapa wartawan dari luar negeri. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara turut hadir menjadi pembicara dalam Konvensi ini.

Dalam paparannya, Menteri Rudiantara menyampaikan bagaimana industri media nasional dapat maju dan berkelanjutan dalam lanskap global. “Sesuai dengan maksud dari Konvensi ini, tidak hanya integritas akan tetapi lebih merupakan integrasi media dalam lanskap global, sesuai dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi saat ini,” katanya.

Hal ini, lanjut Rudiantara, karena tantangan pasar global yang saat ini semakin mengarah pada sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Tantangannya saat ini adalah pemanfaatan peluang teknologi TIK yang semakin maju dan populer, karena kapitalisasi pasar perusahaan global saat ini semakin mengarah kepada sektor TIK.

“Sementara itu di Indonesia, perkembangan pasar Indonesia saat ini lebih ke arah accessible dan consumerable markets, di mana konsumsi HP dan smartphone sudah begitu besar, dan akan semakin meningkat, lebih banyak dari rekening bank, sehingga Indonesia dilihat oleh dunia sebagai sizeable captive market,” papar Rudiantara.

Menteri Rudiantara juga memaparkan agar dimanapun dan pasar apapun di Indonesia harus bisa accessible dengan TIK, karena global sedang melihat Indonesia. “Bagaimana pasar wisata dimanapun di Indonesia dapat diakses oleh wisatawan dari manapun secara global,” jelas Rudiantara

Oleh karena itu, lanjutnya, tugas pemerintah untuk menyiapkan infrastruktur jaringan telekomunikasi demi mendukung kesiapan ini. “Harus diterapkan affirmative policy. Maka kita bangun Palapa Ring sebagai tol informasi berbasis jaringan fiber optik yang harus masuk sampai Natuna, Miangas, dan lainnya yang sangat strategis,” tegas Rudiantara.

Disamping membangun kesiapan infrastruktur, lanjutnya, yang perlu dipastikan adalah jangan sampai saat infrastruktur siap, justru pihak asing yang lebih mengambil pangsa pasar konten. “Kita memang tidak bisa melakukan restriksi (pembatasan), akan tetapi kita dorong equal treatment dan equel level antara OTT global dan OTT nasional, setidaknya dalam customer service (adanya kebutuhan pelayanan bagi pengguna di Indonesia), data protection, fiskal/pajak,” papar Rudiantara.

Kemudian masih terdapat dua tantangan lainnya, yaitu tantangan kreativitas, termasuk bagaimana pemanfaatan datawarehousing dan datamining oleh pelaku usaha nasional, serta tantangan regulasi di mana kita sendiri harus mampu menyiapkan regulasi namun harus bersifat less regulation. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *